468x60 ads


  • best practice
  • Best Practice
  • Best Practice
  • Best Practice
  • Best Practice
  • Best Practice

Mengatasi Rasa Minder

0 komentar

Mengatasi Rasa Minder
Katakanlah anda ingin memuat tulisan di blog pribadi Anda, tapi Anda merasa tulisan itu sangat jelek. Andapun minder, takut diejek, malu bila tulisna tersebut dibaca oleh orang lain. Karena "dihantui" oleh perasaan seperti ini, Anda pun tidak pernah memuat tulisan Anda dimanapun. semua naskah yang telah anda tulis hanya tersimpan di tempat yang tersembunyi.

Sahabatku, mari kita hadapi ini dengan logika saja, simak penuturan tentang mengatasi rasa minder berikut ini:
  1. Seandainya anda memelihara rasa minder tersebut, dengan kata lain Anda tak pernah membiarkan siapapun selain anda sendiri yang membaca tulisan anda. Bisakah anda menjadi penulis sukses? Tentu tidak! Semua penulis sukses pastilah memiliki banyak karya yang sudah dibaca oleh orang lain!
  2. Seandainya tulisan anda memang benar-benar jelek, so what? Asma Nadia pernah melontarkan sebuah kalimat yang amat menggelitik, "tak pernah ada ceritanya, seorang penulis mati terbunuh hanya karena kualitas naskahnya jelek". Ya, Asma benar. Mungkin anda akan dicela orang bila naskah anda sangat buruk. Mungkin pula anda disarankan untuk mencari katifitas lain, tak ada gunanya jadi penulis. Kenyataan seperti ini memang menyakitkan. tapi percayalah, naskah yang buruk itu takkan pernah mencabut nyawa anda! Tak ada resiko besar yang akan Anda derita.
  3. Bila misalnya orang lain mengatakan tulisan anda benar-benar jelek, yang harus anda lakukan adalah membaca dan mempraktekkan kembali ilmu yang anda dapatkan. Terus mencoba dan tak kenal kata menyerah.
Ketika anda merasa bahwa tulisan anda jelek, sebenarnya itu hanya perasaan anda. Itu hanya sebuah "vonis" yang diambil oleh anda sendiri. Berdasarkan pertimbangan anda sendiri pula yang sangat subjektif.

Menjadi Penulis

2 komentar

Menjadi Penulis
Menjadi Penulis? Hmmm… rasanya sulit dan tidak mungkin. Membaca saja malas, apalagi menulis. Tidak punya bakat. Menulis adalah kegiatan yang perlu waktu dan tempat khusus, tidak bisa sembarangan dan tidak bisa dilakukan kapan saja. Menulis perlu konsentrasi dan ketenangan, menulis haruslah fokus dan tidak boleh terganggu oleh apa pun. Menulis harus sesuai kaidah dan tata bahasa yang benar, harus memiliki dasar dan ilmu yang memenuhi syarat, aturan yang jelas dan tidak boleh salah.

Benarkah demikian? Benarkah menulis sesuatu yang sulit dan penuh dengan aturan?

Tidak demikian, menulis itu sebuah kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikan. Bahkan menulis bisa menjadi pekerjaan dan profesi yang menghasilkan uang. Lalu mengapa menulis menjadi sulit? Sejak Sekolah Dasar (SD) kita sudah diajarkan ‘mengarang’, namun tidak banyak yang menjadi pengarang maupun penulis. Adakah sesuatu yang salah?

Mungkin tidak salah, tetapi metode yang diterapkan tidaklah tepat, sehingga membuat kontra produktif, bukannya menjadi mudah dan mengasyikkan, menulis menjadi kegiatan yang membosankan dan sulit dilakukan. Bagaimana mungkin seorang guru mengajarkan menulis, sementara sang guru sendiri mengalami kesulitan dalam menulis.

Ada tembok-tembok yang harus kita hantam dan pecahkan, sehingga tidak lagi menghalangi dan menghambat kita dalam menulis. Tembok yang sebenarnya kita buat sendiri dan membuat diri kita sulit. Ada hambatan internal, ada juga eksternal. Namun lebih berbahaya adalah hambatan internal, seperti;
  1. Tidak punya niat & keinginan.
  2. Malas & merasa tidak ada waktu.
  3. Takut dibaca, dikoreksi, dan caci maki.
  4. Tidak punya kemampuan dan ilmu menulis, tidak mau belajar.
  5. Kesan dan asumsi menulis sulit.
Bila kita berhasil mendobrak dan memecahkan tembok-tembok penghalang tersebut, maka kita sudah memiliki kemampuan mengendalikan diri dan mulai menulis. Tumbuhkan niat dan keinginan menulis, buang jauh-jauh rasa malas dan tidak percaya diri, belajar dan dalami kemampuan menulis dengan banyak membaca buku, atau mengikuti workshop menulis. Menulis tidaklah sesulit apa yang kita pikirkan/persepsikan, bahkan jauh dari kesan dan asumsi sulit. Menulis begitu mudah dengan beberapa hal yang harus kita lakukan;
  1. Menulis bukan dipikirkan, tetapi dilakukan. Menulislah sesuai yang anda inginkan, bebas lepas tanpa beban. Buang semua aturan dan hambatan, memulai menulis adalah sebuah prestasi. Menulis seperti belajar renang dan sepeda, harus praktek langsung.
  2. Menulislah sesuatu yang dari dalam diri lebih mudah, bukan mencari-cari diluar diri kita. Seperti menulis pengalaman pribadi, perasaan yang ada saat ini, pekerjaan yang dijalani, orang terdekat yang dicintai, dan apa saja yang ada di dalam diri.
  3. Aktifitas penulis adalah menulis, ketika menulis maka hanya menulis, tidak usah dibaca ulang dan di edit. Bila telah selesai, baru mulai di baca ulang dan lakukan editing. Karena proses editing sebenarnya dilakukan oleh seorang editor.
  4. Nikmati setiap untaian kata-kata yang dituliskan, dan kembangkan sesuai dengan keinginan dan harapan kita. Mau menjadi apa hasil tulisan kita, adalah hak kita sebagai penulis. Tumbuhkan keberanian diri untuk bebas menulis dan berpendapat.
  5. Jangan takut salah menulis, karena manulis adalah juga sebuah seni merangkai kata. Apa pun yang kita tulis adalah sebuah keindahan. Tumbuhkan rasa percaya diri terhadap kemampuan menulis, karena menulis memang mudah.
Menjadi penulis tidak lagi sulit, banyak pelatihan dan buku-buku tentang menulis yang bisa diikuti dan dibaca. Bahkan dengan kemajuan teknologi, seperti alat komunikasi dan internet makin mempermudah menulis. Dengan SMS, update status, membuat blog, dan sebagainya. Masihkah kita merasa menulis begitu sulit? Tidak. Saat ini menulis jauh lebih mudah dan mengasyikkan, bahkan banyak yang menjadikan menulis sebagai sarana mendapatkan uang. Tunggu apa lagi? “Be The Best with Practice, Best Practice!”

Sampai jumpa pada “BEST PRACTICE Writing Workshop”,

Munawar Aziz, inspirator menulis Indonesia.
Informasi: Hanafi: 0817-270-165, Tlp: (0274) 377-399.

Writing Workshop bersama Best Practice

0 komentar

Mengadakan pelatihan menulis atau writing workshop bersama Best Practice DIY dan Jateng. Segera hubungi kami di 081-7270-165 atau (0274) 7408939. Be The Best practice..


Menjadi seorang penulis bukanlah suatu hal yang sulit. Sejak masih kecil kita sudah belajar bagaimana caranya menulis. Dalam stiap aktifitas keseharianpun, kita tidak pernah terlepas dari aktifitas menulis, apapun itu. Dengan menulis buku harian, menulis catatan belanja, atau sekedar update status di facebook atau twitter kita sudah melakukan aktifitas yang dinamakan dengan menulis. Lantas apakah yang menjadi kendala untuk menjadi seorang penulis?

Menjadi penulis hebat bukanlah suatu tujuan yang bisa didapatkan dengan mudah. Perlu latihan dan kerja keras yang harus terus diasah kemampuannya. Tetapi menjadi seorang penulis tetap saja berawal dari menulis dan menguntai kata huruf demi huruf menjadi sebuah kalimat yang baik dan dapat menarik simpati  setiap pembacanya. Karena sejak lahir kita sudah dibekali dengan kemampuan berucap maupun berkata kata yang dapat mempengaruhi dan ditangkap maksutnya oleh orang lain. Lantas bagaimana menuangkan sebuah ide, gagasan, opini, dan pemikiran yang selama ini terbendung dalam otak kita menjadi sebuah tulisan?

Best Practice, mengadakan pelatihan menulis bersama Bapak Munawar Aziz, pakar penulis tingkat nasional di Indonesia sekaligus pendiri pelatiahan menulis di BP (Balai Pustaka). Dengan workshop bersama Best Practice, menulis akan menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Best Practice menggunakan metode yang telah teruji dan menghasilkan banyak karya dan buku-buku dari para alumni pelatihan.

Hubungi kami segera, dan dapatkan bukti nyata bersama para alumni lain yang terdiri dari berbagai latar belakang (Dosen, Guru, Doktor, Jurnalis, Dsb.) yang telah sukses menjadi penulis penulis hebat. Raih kesempatan untuk membuka mata anda bahwa menulis adalah suatu hal yang menyenangkan tanpa ada paksaan dan membuat tak dapat berhenti menuangkan pikiran anda dalam sebuah tulisan.

"Setiap pribadi unik dan sempurna dengan potensi terbesar yang dimilikinya"